Catatan Berkunjung ke Ponpes Modern Gontor, Ponorogo


Perjalanan menuju Mlarak Gontor

Perjalanan menuju Mlarak Gontor

Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman  berkunjung ke salah satu Pondok Pesantren terbaik di Indonesia bahkan gemanya sudah sampai ke mancanegara yaitu Ponpes Modern Gontor yang berlokasi di Desa Gontor Mlarak dan Desa Madusari,Kecamatan Siman, Ponorogo, Jawa Timur. Jauhnya tak terkira, karena kebetulan saya menyetir sendirian dari Jakarta ke Jawa Timur yang kurang lebih berjarak 757 KM. Rekor pertama saya menyetir tanpa henti seorang diri. Karena keempat teman saya yang lain ternyata tak bisa menyetir.  Ternyata capek juga, terlebih buat saya yang baru pertama kali menyusuri jalanan dimulai dari Jakarta -Solo, Sragen, Ngawi, Magetan, dan Madiun. Sepanjang jalanan memang mata ini disuguhi berbagai pemandangan indah khas desa-desa di Jawa.

Sepanjang Mata memandang disuguhi pemandangan indah perbukitan

Sepanjang Mata memandang disuguhi pemandangan indah perbukitan

Sehingga rasa capek kadang terbayarkan dengan suguhan keindahan alam yang tiada tara terkira. Impas lah..Saya memang niat banget pengen lihat langsung Ponpes Gontor sejak kecil. Dulu pernah punya cita-cita mau ke pesantren. Namun orangtua tidak mengizinkan sehingga cuma bisa mendengar ceritanya saja dari teman-teman yang mondok yang setiap lebaran selalu pulang kampung. Menuju lokasi gampang-gampang susah..Yang mudahnya banyak orang dijalanan yang sukarela memberikan petunjuk arah. Tapi antara satu dengan lainnya kadang berbeda petunjuk. Atau karena bahasa jawa saya yang tidak terlalu fasih sehingga kadang sulit juga memahami maksud mereka. Bahkan saya tak ingat persis jalanan yang harus dilewati karena petunjuk ke lokasi memang tidak terlihat kecuali Plang Besar saat sampai di perempatan Dengok, Ponorogo. Nah kalau sudah sampai Dengok..artinya sudah sangat dekat jarak Ponpes.

Mobil yang biasa menemani saya kemana-mana istirahat sebentar

Mobil yang biasa menemani saya kemana-mana istirahat sebentar

Sekilas kota Ponorogo yang lebih dikenal luas dengan seni reog tradisionalnya adalah sebuah kota kecil yang sangat bersih kecuali terminal bus-nya yang kotor banget. Tidak ada macet dimanapun. Kotanya sangat tenang karena disini banyak sekali pondok pesantren. Jalanan yang rapi dengan pohon-pohon di tengah jalan arah Jetis/Pacitan yang rindang. Kotanya sangat mudah dijelajahi selain sebagai kota perlintasan dengan alun-alun yang banyak sekali patungnya dan gedung Bupati yang tinggi menjulang setinggi 6 lantai, juga masih tetap sama. Pelat kendaraannya AE sama seperti di Madiun dan masjid-masjid di kota ini sangat bersih. Penduduknya terkenal ramah karena dulunya satu keresidenan dengan Solo, Kediri dan Wonogiri sehingga bahasa jawanya masih halus berbeda dengan penduduk Jawa Timur lainnya seperti Pasuruan dan Surabaya yang sudah rek Suroboyonan.

Senang sekali rasanya bisa menginjakkan kaki di Ponpes ini. Sembari membayangkan jika dahulu saya diizinkan bersekolah disini pasti  akan banyak kenangan yang tercipta. Walaubagaimanapun saya tetap bersyukur, siapa tahu kelak anak-anak saya yang akan meneruskan cita-cita saya untuk dapat mondok di Ponpes kebanggaan Indonesia ini? Wallahu’alam. Ternyata Ponpes Modern Gontor ini luas juga terdiri atas 6 Pondok Pesantren yang tersebar dibeberapa desa mulai dari Ponorogo, Ngawi,Kediri dan Banyuwangi. Kedatangan saya disambut oleh seorang santri yang bertugas menyambut tamu yaitu Aan berasal dari Padang.

Akhirnya sampai di Ponpes Darussalam menjelang maghrib

Akhirnya sampai di Ponpes Darussalam menjelang maghrib

Disambut oleh petugas penjaga Tamu yang datang ke Ponpes

Disambut oleh petugas penjaga Tamu yang datang ke Ponpes

Setelah melapor dan mengisi buku tamu. Saya dipersilahkan untuk masuk ke kamar khusus tamu menginap. Tempat ini biasanya kalau musim tahun ajaran baru dimulai, biasa diisi oleh orangtua santri  untuk menginap selama mengantarkan anaknya mendaftar proses administrasi atau digunakan untuk kunjungan tamu lainnya. Pas masuk ke ruangan kamar tamu, ingatan saya langsung terbuka dengan penggalan di Novel “Negeri 5 Menara” yang menceritakan kehidupan pesantren di Gontor. Semuanya terlihat apa adanya dan sangat sederhana. Persis dengan apa yang diceritakan dalam novel tersebut kini nyata didepan mata saya.

Di Ponorogo ini terdapat Kampus Ponpes Gontor 1 dan Gontor 2, yang dahulunya merupakan cikal bakal Ponpes Modern Gontor. Yang menarik setiba saya di Ponpes Modern Gontor tepat azan Maghrib berkumandang. Sehingga masih bisa melihat suasana santri yang bergegas menuju masjid. Ramai sekali dan begitu menyenangkan melihat antusias mereka memenuhi panggilan suara Azan. Selang tak berapa lama setelah azan selesai berkumandang suasana lapangan tampak sepi dan hanya satu dua orang yang telat dan sedikit berlari menuju masjid. Yang saya tahu para santri memang diharuskan sholat berjamaah di masjid tepat waktu, jika ada yang melanggar maka akan ada sangsinya. Kadangkala ketaatan memang harus dipaksakan toh hal-hal baik tak semuanya bisa dilakukan dengan cara yang biasa.

Mlarak-20120516-01099 Mlarak-20120516-01097 IMG-20120516-01102 Mlarak-20120516-01093 IMG-20120516-01092 IMG-20120516-01091 Mlarak-20120516-01089 Mlarak-20120516-01095

Kemudian di beberapa gedung ada banyak tulisan besar yang terpampang di pintu masuk dengan huruf kapital besar. Salah satu yang menarik saya adalah tulisan kalimat tanya Ke Gontor, Apa Yang Kau Cari? Saya sempat merenung sebentar dengan pertanyaan tersebut yang membuat saya tak juga menemukan jawabannya. Untuk mengetahui makna kalimat tersebut biasanya para santri akan diberikan pengarahan dan pengenalan (taaruf) yang diberikan oleh perwakilan pondok sehingga kelak akan tahu maknanya.

Beberapa untaian kalimat motivasi lainnya saya baca juga satu persatu disepanjang komplek Ponpes Modern Darussalam Gontor ini.  Ada juga beberapa kalimat mutiara di pasang melalui spanduk ditengah-tengah jalan yang mau ga mau membuat orang akan membacanya. Cara ini cukup efektif untuk membangkitkan semangat para santri untuk terus menerus memotivasi diri tidak hanya bagi santri juga civitas akademika lainnya seperti guru. Dimana proses belajar-mengajar dimulai pukul 04.00 WIB s.d. 22.00 WIB setiap harinya.

IMG-20120516-01124

Selama di Gontor, saya banyak bertanya dan berdiskusi dengan beberapa santri dan guru. Saya juga melihat langsung suasana kehidupan para santri. Kebetulan pada saat itu tengah terjadi kegiatan rutin yaitu Pidato yang membahas masalah agama dan dilakukan kompetisi antar santri per asrama dengan menggunakan bahasa arab. Suasananya sangat ramai, bahkan sampai keluar gedung dan beberapa santri yang tidak bisa masuk gedung terlihat mengintip dibeberapa jendela atau celah untuk mengetahui kondisi didalam ruangan.

Bersama guru pengajar..sayang gambarnya gelap dan kabur dibelakang adalah Menara Masjid Utama

Bersama guru pengajar..sayang gambarnya gelap dan kabur dibelakang adalah Menara Masjid Utama

Untuk mengenali para guru di Ponpes Modern ini sangat mudah. Mereka mengenakan jas dan/atau berdasi sedangkan santri hanya mengenakan kemeja panjang dan bercelana panjang. Ketika shalat berjamaah biasanya celana panjang akan mereka ganti dengan sarung dan tambahan kopiah (peci). Suasana pondok sangat dinamis melihat para santri yang terlihat selalu antri dan lari. Yup..mereka ini sangat sering saya jumpai dengan berlari. Seperti takut kehilangan sesuatu. Mau Mandi lari kemudian ngantri. Mau makan lari kemudian ngantri. Menuju kelas sama juga ada yang berlari dan kemudian ngantri. Mereka lari atau jalan rapi berduyun-duyun. Sangat menarik melihat suasananya. Bersamaan dengan itu, setiap mereka melewati senior pasti kakak kelasnya akan bertepuk tangan sambil memberikan aba-aba agar semangat dan cepat berkumpul entah di masjid, kelas atau kegiatan baris-berbaris lainnya di sekitar Ponpes.

IMG-20120516-01106 IMG-20120516-01108 Mlarak-20120516-01109 Mlarak-20120516-01110 Mlarak-20120516-01111 Mlarak-20120516-01112 Mlarak-20120516-01113 Mlarak-20120516-01114 Mlarak-20120516-01115 Mlarak-20120516-01116 Mlarak-20120516-01117 IMG-20120516-01120 IMG-20120516-01121 IMG-20120516-01122 IMG-20120516-01123

Didahului dengan ucapan salam, diiringi dengan ucapan hamdalah, dan shawalat nabi para santri memulai berbagai aktivitasnya. Karena berdasarkan penjelasan guru yang ditemui untuk mondok di Gontor bukanlah ijazah yang dikejar melainkan orientasinya selalu ditekankan yaitu mendapatkan ilmu untuk ibadah. Karena itu di Gontor tidak ada jurusan IPA atau IPS seperti lazimnya di sekolah umum. Jurusannya satu untuk semuanya yaitu Jurusan Akhirat. Artinya walaupun mereka belajar ilmu agama namun ilmu dunia lainnya tetap mereka pelajari semua termasuk tambahan bahasa Arab dan Inggris. Wajar kiranya jika mondok disini sangat ketat aturannya dengan jam belajar yang jauh lebih banyak di banding sekolah umum.

Gontor sendiri bukan nama Ponpes ini. Gontor seperti yang ada dalam tulisan awal merupakan nama desa tempat pertama kali Ponpes ini berdiri. Nama Ponpesnya adalah Pondok Pesantren Modern Darussalam. Darussalam sendiri dikonotasikan dengan Kampung Nan  Damai. Makanya para santri dilarang keras bertengkar apalagi sampai pertengkaran fisik dan termasuk dalam pelanggaran berat dengan sangsi dipulangkan.Gontor juga bisa berarti ibu kandung buat para almamaternya termasuk para alumni. Sehingga jika mereka datang berkunjung kembali ke Gontor maka akan disambut dengan senang hati. Oleh karena itu makanya Gontor tidak mementingkan pendidikan Akademis melainkan pendidikan pesantren yang menekankan pada pencetakan orang dengan pendidikan akhlak/mental, karakter, sikap, dan pola pikir yang baik. Gontor tidak mau mencetak ahli agama, ahli nahwu, ahli sharaf, atau pendidikan lainnya.

Mlarak-20120516-01131 Mlarak-20120516-01134 Mlarak-20120516-01138 Mlarak-20120516-01144 Mlarak-20120516-01147 Mlarak-20120516-01140 Mlarak--01135

Rasanya menyesal dahulu kenapa saya tidak bersekolah di Ponpes Modern Darussalam Gontor ini. Walaupun begitu saya cukup senang akhirnya kesampean bisa datang langsung menyaksikan suasana pendidikan di sini walaupun cuma sebentar. Berharap kelak suatu saat akan ada generasi saya yang mewujudkan cita-cita saya untuk dapat bersekolah disini.



Categories: jalan-jalan

Tags: ,

7 replies

  1. jauh sekali mas asril kesana? ternyata ketat juga untuk bisa sekolah disana.

  2. Aseeek…jiwa petualangnya sudah muncul. Kangen euy sama lu menghabiskan masa-masa bermain sepeda bareng. Seandainya satu kota sama lu lagi, perhaps.

  3. asli ga ada capeknya nih anak. Kerja sudah begitu melelahkan tp semangat tetap terjaga. Baleklah woi..kapan nih undangannya datang? hehehe masih ga habis pikir sudah nyampe kesana aja?

  4. ponorogoku kau lah kota kelahiranku, kaulah yang membanggakan kami rakyatmu, bukan sekedar REOG, Kuliner, Wisatanya, tapi kamu membuat bangga kami dengan KOTA SANTRIMU……….

  5. assalamualaikum wr. wb. maaf mas, saya dari lampung, rencanya minggu ketiga bulan ini mau ke gontor, nganterin adik saya mau daftar sekolah disana. saya belum tahu bagaimana rute perjalanan dari lampung kegontor menggunakan transportasi umum. mohon infonya ya mas. terimakasih sebelumnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Abdallah Seymour's Blog

The age of 'amal

Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Blog Ahlivital.com

Memberikan informasi tentang pengobatan Alternatif, Herbal, Kesehatan dan Seksualitas.

gprimakusuma

Just another WordPress.com site

It Seems To Me...

My random musings on lots of things I'm not an expert on

Arise and Go

"Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin."- Mother Teresa

Rocketeer

Here we go, come with me.. There's a world out there that we should see

fujianggres

This WordPress.com site is my journey

the garden of eden

"Hello, darling. Did you have a nice lunch?" Ernest Hemingway

Photo Nature Blog

Nature and Outdoor Photography by Jeffrey Foltice

A Traveller's Tale

photography and travel interests, places, and things

dibuang [sayang]

I usually write when I'm error, so prepare yourself.

Robbi Hafzan

Pulau Bintan Indah

international andrea

The stories, photographs and travel tips of a young wanderluster as I make my way around the world.

urbanbeings

run, climb, eat, rest... live

Radion Photography

Vlad Radion is an interactive photographer specializing in wedding and portrait photography, Vlad is based in Boise, ID.

Slice Of Thought

It's not about getting the right answers, but knowing the wrong answers and avoiding them.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,992 other followers

%d bloggers like this: