Memutuskan Hubungan Kerja dengan Karyawan Outsource (sebuah keputusan sulit)



Ini adalah Perasaan bersalah. Seminggu terakhir perasaan bersalah dan ga bisa berbuat banyak membuatku ga bisa berfikir lebih. Bagaimana aku harus mengatakan bahwa tidak akan lagi memperpanjang dua orang staf outsource yang sudah hampir 2 tahun bersama. Boleh dibilang, aku termasuk orang yang tidak tega melihat orang lain susah. Tapi bagaimanapun aku sudah memberi kesempatan ke mereka untuk bekerja lebih baik. Sayang sekali, selang tiga bulan terakhir upaya untuk memonitor pekerjaan mereka untuk berubah dan bekerja giat tetap tak membuahkan hasil. Jika saja mereka berfikir untuk keluarganya atau motivasi lainnya mungkin mereka akan lebih baik bekerja tak perlu aku putuskan hubungan kontrak kerja ini.

Namanya Yudha dan Adi. Yudha sehari – hari membantuku dalam proses mutasi data. Sedangkan Adi dia ahli dalam pengolahan data mining sehingga dari awal sampai sekarang dia tetap di database management. Bangga juga melihat mereka berdua punya bekal setelah keluar dari perusahaan ini. Trus kenapa aku tetap tak memperpanjang mereka? Ini kali pertama, aku harus membuat keputusan sulit. Sejak memiliki staf outsource, aku selalu melepas pergi mereka jika telah diterima di perusahaan lain dengan kondisi yang lebih baik dari sekedar karyawan kontrak. Ada kebanggan yang menyelimuti ketika mereka dengan senyuman mohon pamit dan doa untuk sukses ditempat yang baru. Namun untuk kedua orang ini kadang2 berfikir apakah keputusanku sudah bijak? Bagaimana dengan nasib keluarganya? Hal tersebut yang kadang menganggu pikiran. Terlebih Yudha, bulan depan istrinya akan melahirkan putra pertamanya. Tapi apakah ini menjadi tanggungjawabku? Toh kontrak mereka juga diselesaikan tepat waktu bukan ditengah jalan semena-mena diputuskan. Kedua orang tersebut kebetulan aku yang merekrut pada 2009 silam.

Pada awal di mutasi ke Jakarta. Aku diamanahi untuk memimpin unit baru. Didalamnya terdapat 6 orang pegawai organik dan 9 pegawai non organik/outsource. Interaksiku memang lebih banyak ke karyawan outsource karena selain mereka butuh koordinasi yang intensif, mereka juga perlu dimotivasi terkait banyak pekerjaan operasional harian yang kadang-kadang membuat jenuh. Bagaimana tidak jenuh? Jika setiap hari mereka melakukan pekerjaan yang sama. Nah untuk urusan inilah yang membuat mereka sering sekali tidak teliti dan berakibat fatal. Pekerjaan keduanya berbeda. Aku mengkategorikan medium untuk Yudha dan essential buat Adi. Kasus untuk ga memperpanjang mereka berdua juga berbeda. Kalau Yudha alasan kuatnya dia sering kali melakukan kesalahan yang sama untuk pekerjaan yang sudah 2 tahun dia geluti. Sifat lain adalah procrastinator-nya begitu dominan. Sehingga ada beberapa mutasi yang akhirnya gagal tereksekusi sehingga fatal harus membuat adjustment dengan nilai yang sangat besar. Hal ini aku tutupi karena memang tanggung jawab kembali padaku. Namun apakah selamanya harus begini? Makanya hasil meeting waktu itu semua unit merekomendasikan dia untuk tak diperpanjang. Sedangkan Adi, menurutku dia satu-satunya orang yang pintar dan cerdas dalam melakukan pekerjaannya. Pada awal merekrutnya, aku percaya atas kemampuan dia menyerap perintahku. Dulu dia menjadi kebanggaanku bahkan diatas rata-rata staf yang lain. Namun setahun terakhir, sikapnya mulai berubah. Seiring kemampuan dia yang cepat mengeksekusi pekerjaan justru awal malapetaka buat dia. Seringkali ketelitian menjadi factor yang dilupakannya. Bahkan ditambahi dengan attitude dia yang sering keluar tanpa izin dan terakhir kepercayaanku yang tinggi yang diabaikannya. Berapa kali aku pergoki dia datang telat pulang ke kantor dari makan siang. Ditambah pekerjaan yang seharusnya dilakukan di jam kerja dibawa-nya ke jam lembur.Sehingga sifat ini mempengaruhi kinerjanya dan cenderung dalam interaksi juga seolah-olah aku memanjakannya. Padahal sama sekali tidak. Aku memperlakukan semua orang dengan hak yang sama. Tapi toh hasil akhir saat meeting ada beberapa orang yang tidak merekomendasikannya. Sehingga terjadi tarik ulur antara kepentinganku dengan manajemen.

Dan beberapa alasan lain yang seharusnya tidak aku kemukakan disini menyangkut reputasi mereka. Selebihnya mereka adalah pekerja yang tangguh namun sayang kebutuhanku untuk efektivitas pekerjaan yang sangat tinggi membuatku harus merelakan mereka untuk pergi dan mencoba mencari penggantinya lagi. Selain itu upaya konseling beberapa kali juga menunjukkan antusias mereka terhadap pekerjaan yang tidak begitu tinggi membuatku semakin yakin untuk tidak memperpanjang mereka. Toh, perusahaan ini bukan milik pribadiku pun bukan badan social. Siapa tahu mereka akan jauh lebih berkembang dan pesat di tempat lain. Amin


About these ads


Categories: tulisan sederhana, Uncategorized

Tags: , ,

2 replies

  1. Pada akhirnya ‘nilai’lah yang menentukan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road Essays

Travel writing and long form non-fiction narrative from the road

Wish I Were Here

The literary journeys of J.D. Riso

TRIP TO TRIP

Chase a trip to another

ayuavenue

my life my journey

Liburan murah ke Singapura ala Backpacker

Just another WordPress.com weblog

The TraveLearn

- learning by traveling -

PADAMARGA!

in sanskrit padamarga means the little path...

Abdallah Seymour's Blog

The age of 'amal

Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Blog Ahlivital.com

Memberikan informasi tentang pengobatan Alternatif, Herbal, Kesehatan dan Seksualitas.

gprimakusuma

Just another WordPress.com site

It Seems To Me...

My random musings on lots of things I'm not an expert on

Arise and Go

"Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin."- Mother Teresa

Rocketeer

Here we go, come with me.. There's a world out there that we should see

fujianggres

This WordPress.com site is my journey

the garden of eden

"Hello, darling. Did you have a nice lunch?" Ernest Hemingway

Photo Nature Blog

Nature and Outdoor Photography by Jeffrey Foltice

A Traveller's Tale

photography and travel interests, places, and things

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,029 other followers

%d bloggers like this: